‘MUJIZAT’ ITU SELALU ADA

Rohani
oleh: Paulus Bambang WS.

Siang yang terik itu, di antara kota Jombang dan Mojokerto, saya berdiri di tengah persawahan hijau yang sedang akan dikonversi menjadi jalan tol. Memandang ke depan, belakang dan samping kiri kanan, saya melihat padi yang menghijau subur diselingi dengan beberapa plot tanaman tebu menambah indahnya kawasan itu.

“Pak, daerah inilah yang akan dibebaskan untuk membangun tol ini. Hanya hambatannya ada 4 km tanah yang lembek (soft soil) sehingga perlu penanganan khusus baik dari segi teknologi maupun biaya”, kata Pak Max. “Artinya, kita harus melakukan treatment khusus ya agar kekuatannya sama dengan yang tanah keras?”, saya bertanya untuk memperjelas maksudnya. “Ya Pak”, jawabnya lugas sambil menjelaskan secara rinci teknologi yang akan dipakai. “Yah, kita doa saja yah, biar hasilnya bagus’, saya menimpalinya.

Saya teringat kisah Musa ketika berada di Rafidim. Saya mengangkat tangan, berdoa dan memberkati tanah itu, walaupun sebagian besar belum dapat dibebaskan. Sambil berkeliling, saya berdoa sambil mengangkat tangan. Rekan lain yang belum terbiasa melihat hal ini mungkin terasa aneh, apalagi ini dilakukan pimpinan.

‘Kita jangan mengandalkan hanya ‘knowledge’, saya menjelaskan sambil memegang kepala saya. “Tapi juga kita harus mengandalkan ‘knee’ artinya doa’, tambah saya sambil memegang ‘dengkul’ saya. Sengaja saya memakai istilah ini agar lebih meresap di kalangan bawah.

Entah berapa bulan telah berlalu, saya mengunjungi proyek ini lagi. Sesampainya di proyek, rekan lain Wiek dan Wog memberi informasi bahwa tanah lembek yang dulunya diperkirakan 4 Km sekarang setelah diteliti lebih lanjut hanya tersisa 350 m saja. “Puji Tuhan”, saya berseru. “Nah, betul kan’, kata Wog ketika melihat reaksi saya. ‘Kalau Pak Paulus pasti akan berseru Puji Tuhan, kalau eksekutif lain akan bertanya ‘mungkin yang dulu salah perkiraan atau perhitungan’, katanya lagi membuat rekan seperjalanan tertawa.

‘Lho, kita berdoa minta ‘mujizat’, lalu terjadi ‘mujizat’ masak kita tidak bilang Puji Tuhan’, kata saya lagi. Entah ‘mujizat’ karena salah perhitungan atau tanah yang lembek jadi keras buat saya itu adalah ‘mujizat’. Yang pertama ‘mujizat’ intelektual, Tuhan beri kepandaian untuk analisa yang lebih tepat atau yang kedua ‘mujizat’ spiritual artinya Tuhan mengubah struktur tanahnya. Substansinya ada perubahan yang ‘dramatis’ dari 4 km tanah lembek menjadi 350m saja. Berapa biaya yang bisa dihemat dengan ‘penemuan’ baru ini. Kami semua tertawa.

Sore harinya, saya mengun jungi daerah Brantas karena akan dibangun jembatan penghubung dengan teknik baru. Mereka sedang mempersiapkan pengecoran landasan tiang penyangga yang harus di cor selama 48 jam tidak boleh terputus dengan trip sekitar 120 truk. ‘Pak, mohon doanya agar tidak hujan dan semua berjalan lancar – maksudnya lalu lintas tidak ada kemacetan karena antara pabrik dan lokasi tersebut harus ditempuh 1,5 jam’, kata Samsul. “Ya, saya akan doakan mulai besok pagi jam 8 sampai senin jam 8 pagi, tidak ada hujan dan traffic’, saya seakan ‘bernubuat’.

Sabtu hari amat cerah, minggu pagi sekitar pukul 10 hujan deras di daerah Cempaka Surabaya. Hati saya was was, walaupun saya sedang berkotbah di salah satu gereja disana. Sore harinya, ditengah kebaktian sekitar pukul 445 sore saya mendapat sms bahwa semua berjalan lancar tidak ada hujan dan traffic lancar. ‘Puji Tuhan”, saya berseru. ‘Hujan sudah dibuang ke Surabaya tadi pagi, ternyata saya punya ‘profesi baru’ yakni ‘pawang hujan’’, kata saya di sela kotbah yang membuat pengunjung tertawa.

Kejadian itu dan banyak kejadian lain yang membuat anak buah saya ketika menghadapi masalah banyak yang berkata ‘Pak mohon doanya’ – bukan mohon dananya saja. Ternyata ‘mujizat’ itu masih ada.

MENCIPTAKAN ‘MUJIZAT’ TERUS MENERUS

Yang saya saksikan di bagian atas tadi mujizat dalam bahasa awam selalu dihubungkan dengan kekuatan Ilahi, artinya ada intervensi Spiritual secara langsung. Ini sesuatu yang tidak dapat dipungkiri. Tapi kejadian itu tidak selalu mudah terjadi. Kenyataannya, kita memerlukan ‘mujizat’ lain agar kita bisa menjalankan kehidupan ini lebih ‘baik’.

Yang saya maksud ‘mujizat’ ini adalah ‘mujizat’ intelektual, ‘mujizat’ yang mengherankan orang lain bukan karena intervensi Ilahi pada produk tapi melalui kepandaian, kemampuan dan upaya keras sehingga menghasilkan produk yang dianggap ‘mujizat’.

Misalnya apa yang menjadi obsesi petani China Mr Hao, yang ingin menciptakan ‘mujizat’ dengan membuat buah ‘peer’ berbentuk Budha atau Barbie. Bukan dengan intervensi Ilahi secara langsung, tapi Hao membuat intervensi intelektual, memberi cetakan pada bakal buah ‘peer’ dengan cetakan mirip Budha atau Barbie. Ini dilakukan selama bertahun tahun yang mendapat tertawaan dari lingkungannya. Dia dianggap ‘gila’ oleh rekan lainnya. Setelah enam tahun, upayanya tidak percuma, ia menghasilkan buah ‘peer’ pertama dengan bentuk seperti Budha. Ini dianggap ‘mujizat’ oleh banyak orang, tapi bukan ‘mujizat’ bagi Hao. Ia menciptakan ‘mujizat’ yang membuat banyak pelanggan rela merogoh koceknya lebih dalam untuk membeli ‘peer’ aneh itu.

Seberapa besar “mujizat ada di tangan anda ?

Dari dua kisah tadi, saya ingin mengajukan pertanyaan yang menggelitik. Seberapa banyak karya anda yang dianggap ‘aneh’, ‘berbeda’, ‘unik’ sehingga banyak orang melihatnya sebagai ‘mujizat’ ?

Kalau karya kita di pekerjaan, keluarga dan pelayanan dianggap biasa saja maka kita akan mendapat penghargaan yang biasa saja. Tapi kalau karya kita dianggap ‘mujizat’ maka kita akan mendapat ‘lebih’. Artinya kita akan terus naik dan tidak turun dan kita akan menjadi kepala dan bukan ekor.

‘Mujizat’ ini harus terus kita upayakan dan ciptakan melalui ‘knowledge’ dan ‘knee’ kita. Kreatifitas dan inovasi di setiap aspek kinerja harus menjadi kebiasaan kita.

Seperti Albert Eisntein memberi wejangan ‘Doing the same thing over and over again but expecting different result is insanity”. Kita harus kreatif, menjadi kepala –yang terdepan dalam menciptakan inovasi baru yang dianggap oleh orang awam lain ‘mujizat’. Kalau ini bisa dijadikan pola hidup kita, maka kita akan menjadi ‘the miracle man’.

0 Comments

Leave a reply

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

Log in with your credentials

Forgot your details?