Wealth Creation: A Godly Gift & Command

(Penciptaan Kekayaan : Sebuah Karunia & Perintah Ilahi)

Mats Tunehag

April 2017


“Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu,

sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan.”

Alkitab bicara tentang kekayaan dalam tiga cara; satunya buruk dan dua lagi baik. Penimbunan kekayaan dikutuk. Berbagi kekayaan dianjurkan. Tapi takkan ada kekayaan untuk dibagikan sampai itu diciptakan lebih dulu.

Kekayaan bukanlah permainan menang atau kalah. Bermacam-macam kekayaan bisa dan perlu diciptakan, dan bisa meningkat. Terlalu sering di gereja hal penciptaan kekayaan disalahpahami, ditelantarkan, atau bahkan ditolak. Hal yang sama terjadi pada para pencipta kekayaan.

Penciptaan kekayaan adalah karunia ilahi dan perintah ilahi (Ul. 8:18). Bangsa Israel diperintahkan untuk meraih peluang bisnis dalam pertambangan dan agrikultur, dan sebagai hasilnya bangsa itu akan makmur. Namun, Allah mengingatkan mereka bahwa penciptaan kekayaan adalah karunia dariNya. Itu harus dilakukan dalam komunitas dan bagi komunitas, mengakui perjanjian, bertanggungjawab kepada Allah, dan peduli untuk memberkati semua orang.

Penciptaan kekayaan dalam dan melalui bisnis melampaui kedermawanan korporat. Bisnis bukan hanya ada untuk memberikan laba. Pada dasarnya mereka ada untuk menciptakan bermacam-macan kekayaan bagi orang dan masyarakat. Itu bukan hanya tentang kekayaan finansial, tapi juga kekayaan sosial, budaya, intelektual, dan rohani.

Kita sering mengasosiasikan bisnis berbuat baik dengan program pinjaman mikro. Namun karunia dan panggilan penciptaan kekayaan lebih dari sekedar pinjaman mikro atau sebuah UKM; itu tentang membangun bangsa, dan mengusahakan kebaikan kota: “Beginilah firman TUHAN semesta alam kepada semua orang buangan yang diangkut ke dalam pembuangan dari Yerusalem ke Babel: Dirikanlah rumah untuk kamu diami; buatlah kebun untuk kamu nikmati hasilnya. Juga, usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang.” (Yer. 29)

Allah adalah Allah pertumbuhan dan kelimpahan, dan itu jelas terlihat dalam ciptaan. Saya menonton sebuah program di Smithsonian Channel di awal 2017. Saya belajar bahwa ada 360.000 spesies yang diketahui, tapi para ahli memperkirakan ada sejuta lebih.

Ketika saya mengunjungi Panama di bulan Oktober 2016 saya diberitahu bahwa ada 18.000 jenis kupu-kupu yang berbeda. Istri saya dan saya suka berjalan-jalan di Kebun Botanikal di Singapura. Ada sebuah kebun anggrek istimewa. Tahukah Anda bahwa ada 30.000 jenis anggrek yang berbeda?

Ini bukan kekurangan atau kesederhanaan, yang seringkali diusung sebagai suatu kebajikan alkitabiah. Melainkan, ini adalah karya sang Pencipta, segala hal bertumbuh dalam kelimpahan. Dalam cara yang sama, kita harus turut menciptakan dengan Allah di dunia kerja. Kita juga perlu menyadari bahwa Allah memiliki minat yang mendalam dalam sebuah dunia kerja yang berfungsi.

Allah dan Dunia Kerja

Prospeknya terlihat buruk. Malahan, itu sangat buruk, bahkan mengerikan. Kota itu dikepung, dan segalanya mengarah kepada kekalahan. Penduduk akan diserbu, disakiti dan dibunuh; rumah-rumah akan dibakar dan sisa penduduk Yerusalem akan diangkut ke negeri asing.

Dalam konteks kiamat ini nabi Yeremia diberitahu Allah untuk membuat suatu investasi – di kota celaka tersebut! Terdengar seperti nasehat yang buruk, bagaikan membeli properti di negara Syria ketika perang berkecamuk. Namun itu dimaksudkan sebagai tindakan profetik dengan melakukan bisnis sungguhan.

Yeremia menyampaikan pesannya dengan kuat dan jelas: Allah akan memulihkan bangsaNya dan kotaNya, dan tanda-tanda bangsa yang dipulihkan akan ditemukan dalam sebuah dunia kerja yang berfungsi. Yeremia membeli sebidang tanah dari kerabatnya, menggunakan hak kelahirannya. Pembayarannya adil dan dilakukan di hadapan para saksi. Sertifikat diterbitkan dan disimpan untuk keturunannya.

Ini adalah pembelian profetik: “Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Rumah, ladang dan kebun anggur akan dibeli pula di negeri ini.” (Yer. 32:15)

Setelah perang, kehancuran, keputusasaan dan pengasingan, pemulihan akan datang, dan itu akan datang dari Allah. Indikator dari pemulihannya terlihat dalam fungsi dunia kerja.

Yeremia melakukan tindakan profetik ketika membeli tanah itu. Itu melibatkan transaksi finansial, sertifikat kepemilikan dan arsip, dan investasi jangka panjang dengan potensi keuntungan bertahun-tahun di depan. Semua ini merupakan indikator saat ini dan masa depan dari ekonomi yang dikenan Allah. Semua ini merupakan tanda dari masyarakat yang ditransformasi, dari keadilan di dunia kerja. Konteks yang lebih luas dalam Yeremia bicara tentang manfaat dari membangun bisnis dan menumbuhkan ekonomi; kekayaan diciptakan, ada sukacita, dan ada perayaan dan rasa syukur kepada Allah.

“Masyarakat yang dipulihkan akan memiliki kehidupan kerja, kenikmatan, perayaan dan penyembahan yang tergabung menjadi satu. Gambaran menanam, menuai, bermain musik, menari dan menikmati tuaian menunjukkan kenikmatan bekerja dalam kesetiaan kepada Allah.” (Komentar Alkitab tentang Teologi dari Pekerjaan)

Yeremia pasal 32 menunjukkan bahwa Allah menginginkan bisnis dan menumbuhkan bisnis. Sebuah bangsa yang diisnpirasi oleh Allah memiliki kerangak kerja legal dan kemasyarakatan yag kondusif bagi pengembangan bisnis. Ijinkan saya mendaftarkan beberapa hal yang terimplikasi atau disebutkan eksplisit dalam narasi Alkitab ini, semuanya bagian dari sebuah dunia kerja bagi kedamaian dan kesejahteraan:

  •                     Sebuah masyarakat yang diatur oleh Hukum
  •                     Sertifikat kelahiran, sejenis identitas yang diakui resmi
  •                     Hukum properti
  •                     Mata uang yang sah
  •                     Sistem transaksi ekonomi yang fungsional
  •                     Kejujuran dan transparansi dalam kesepakatan bisnis
  •                     Surat kepemilikan, catatan, arsip
  •       Pekerjaan menjual dan membeli
  •                     Keuntungan investasi dan pemikiran jangka panjang

 

Ada juga pelajaran lainnya yang dapat kita pelajari:

  •                   Adanya kemauan untuk mengambil resiko
  •                   Pentingnya mengakui Allah dan menghormati Perjanjian dalam bisnis
  •                   Kesiapan untuk mengikuti instruksi Allah dan mengambil langkah iman
  •                   Bersukacita dalam tuaian / keuntungan
  •                   Pekerjaan dan penyembahan terintegrasi
  •       Kekayaan diciptakan dan kesejahteraan datang ke kota tersebut

Kita melihat Allah yang terlibat dalam dunia kerja. Itu merupakan bagian dari misi Allah di dunia dan sepanjang sejarah. Kejadian di Yerusalem dengan Yeremia menunjukkan Allah campur tangan di dunia kerja.

Sebagaimana dikatakan oleh David Green, pendiri dari Hobby Lobby di AS: “Ada seorang Allah, dan Ia tidak menentang bisnis. Ia bukan sekedar ‘Tuhan hari Minggu’. Ia memahami margin dan spreadsheet, kompetisi dan laba.” (Lebih Dari Sekedar Hobi, oleh David Green. Thomas Nelson, 2005)

Perundingan tentang penciptaan kekayaan, bisnis & kemiskinan

Dengan demikian kita bisa mengamati bahwa penciptaan kekayaan untuk transformasi holistik masyarakat dan bangsa berakar dalam prinsip dan narasi Alkitabiah. Allah memiliki minat yang kuat dalam sebuah dunia kerja yang fungsional dimana pekerjaan dihormati, kepemilikan dihargai dan kekayaan diciptakan untuk kebaikan bersama.

Ijinkan saya mengacu pada empat perundingan global dimana saya mendapat kehormatan untuk menjadi bagian di dalamnya, dan yang telah membahas hal-hal ini. Pertemuan-pertemuan ini diadakan pada tahun 2004, 2009, 2014 dan 2017.

Lausanne BAM Issue Group

BAM Global Think Tank yang pertama diadakan dengan bantuan dari Lausanne. Business as Mission Issue Group bekerja selama setahun, membahas permasalahan terkait tujuan Allah bagi pekerjaan dan bisnis, peran kaum pengusaha di gereja dan pelayanan misi, kebutuhan dunia dan respon potensial dari bisnis. Temuan-temuannya dirangkum dalam Manifesto BAM 2004, dan itu terlampir di bawah. Namun ijinkan saya untuk membagikan beberapa kutipan, untuk menggambarkan sebuah konsensus yang bertumbuh di tengah para pemimpin bahwa para pencipta kekayaan dipanggil oleh Allah untuk melayani dalam bisnis.

“Kami percaya bahwa Allah telah menciptakan semua pria & wanita dalam rupaNya dengan kemampuan untuk menjadi kreatif, menciptakan hal-hal baik bagi diri mereka dan orang lain – termasuk bisnis.

Kami percaya dalam mengikuti jejak kaki Yesus, yang terus menerus dan secara konsisten memenuhi kebutuhan orang-orang yang Ia temui, dengan demikian mendemonstrasikan kasih Allah dan kuasa kerajaanNya.

 

Kami percaya bahwa Roh Kudus memberdayakan semua anggota Tubuh Kristus untuk melayani, memenuhi kebutuhan rohani dan jasmani orang lain yang sesungguhnya, mendemonstrasikan kerajaan Allah.

 

Kami percaya bahwa Allah telah memanggil dan memperlengkapi kaum pengusaha untuk membuat sebuah perbedaan Kerajaan dalam dan melalui bisnis mereka.

 

Kami percaya bahwa Injil memiliki kuasa untuk mentransformasi individu, komunitas dan masyarakat. Dengan demikian pengikut Kristus dalam dunia bisnis perlu menjadi bagian dari transformasi holistik ini melalui bisnis.

 

Kami menyadari fakta bahwa kemiskinan dan pengangguran seringkali merajalela di daerah dimana nama Yesus jarang didengar dan dipahami.

 

Kami menyadari bahwa ada kebutuhan penciptaan lapangan pekerjaan dan multiplikasi bisnis di seluruh dunia, mengarah kepada empat hal penting ini: transformasi rohani, ekonomi, sosial dan lingkungan.

 

Kami menyadari fakta bahwa gereja memiliki sumber daya yang besar dan kebanyakan belum tergali dalam komunitas bisnis Kristen untuk memenuhi kebutuhan dunia – dalam dan melalui bisnis – dan membawa kemuliaan bagi Allah di dunia kerja dan bidang lainnya.

 

Perundingan Wheaton

Sebuah perundingan global tentang Bisnis sebagai Panggilan Integral diadakan di Wheaton, Illinois di bulan Oktober 2009. Pertemuan itu mengumpulkan para pemimpin dari dunia bisnis, organisasi non-profit, dan pelayanan Kristen dengan ahli teologi dan pemimpin akademis dalam bidang bisnis, ekonomi, dan misi. Kutipan dari Deklarasinya:

“Ratapan

Kami meratapi bahwa gereja dan bisnis sendiri telah memandang rendah bisnis sebagai kendaraan untuk menghidupi panggilan Kristus, dan telah secara berlebihan mengandalkan pendekatan non-profit yang menghasilkan ketergantungan, kesia-siaan, dan kehilangan martabat manusia yang tidak perlu.

Perayaan Iman dan Pengharapan

Kami merayakan pertumbuhan dari kegerakan orang-orang yang ingin dipakai oleh Allah dan menjalankan aktivitas ekonomi bisnis bagi Kerajaan Allah.

Bisnis dapat menciptakan nilai, memberikan martabat dari bekerja, dan mentrasformasi komunitas dengan meningkatkan taraf hidup.

Bisnis dapat menjadi panggilan integral untuk memproklamirkan dan mendemonstrasikan Kerajaan Allah dengan menghormati Allah, mengasihi sesama, dan melayani dunia.

Bisnis juga dapat menyediakan peluang besar bagi transformasi individual untuk mencapai potensi penuh mereka dalam kreatifitas dan produktifitas dan untuk bertumbuh dan mengalami hidup berkelimpahan sebagaimana dimaksudkan oleh Kerajaan Allah.

Bisnis dapat digunakan untuk membantu memulihkan ciptaan Allah dari keadaannya yang hina.

Merupakan keyakinan mendalam kami bahwa bisnis yang berfungsi selaras dengan nilai-nilai inti Kerajaan Allah berperan dan makin perlu memainkan peran penting dalam transformasi holistik individu, komunitas dan masyarakat.”

Perundingan Atibaia

Penciptaan kekayaan dan distribusi didiskusikan sebagai bagian dari Perundingan Global Lausanne tentang Teologi Kekayaan, Kemiskinan dan Injil yang diadakan di Atibaia, Brazil di tahun 2014. Perundingan itu menegaskan bahwa membagikan kekayaan adalah baik dan Alkitabiah, tapi distribusi kekayaan terlalu sering menjadi respon utama kita untuk memenuhi kebutuhan orang-orang. Ditemukan kebutuhan untuk terus berusaha memahami bagaimana bisnis dapat mendatangkan solusi bagi permasalahan globa, termasuk kemiskinan dan perdagangan manusia. Gagasan tentang kesederhanaan sebagai suatu nilai universal juga ditantang, dan jelas perlu dibahas lebih jauh.

Pernyataan Atibaia cukup panjang, tapi berikut beberapa kutipan terkait penciptaan kekayaan, bisnis dan kaum miskin.

Pengikut Kristus dipanggil bukan hanya untuk sekedar memberi dan berbagi dengan murah hati, namun juga untuk bekerja demi pengentasan kemiskinan. Ini perlu mencakup menawarkan cara alternatif yang etis untuk penciptaan kekayaan dan pemeliharaan atas bisnis yang bertanggung jawab secara sosial yang memberdayakan kaum miskin dan memberikan manfaat material, serta martabat bagi individu dan masyarakat. Ini harus selalu dilakukan dengan memahami bahwa semua kekayaan dan semua ciptaan merupakan milik kepunyaan Allah.

Kami mengakui bahwa, dalam ekonomi pasar global, salah satu cara apaling efektif untuk mengentaskan kemiskinan adalah pengembangan ekonomi, namun demikian para penginjil seringkali gagal memberikan solusi bisnis yang digerakkan nilai-nilai bagi kemiskinan.

Bagaimana kita dapat bekerja lebih efektif dalam mendirikan usaha bisnis yang kreatif, etis, dan berkelanjutan dalam perang melawan kemiskinan?”

Perundingan tentang Penciptaan Kekayaan

Untuk lebih jauh menelusuri tentang penciptaan kekayaan dan membahas peran dari pencipta kekayaan, Kegerakan Lausanne dan BAM Global mengorganisir suatu Perundingan Global terkait Peran Penciptaan Kekayaan terhadap Transformasi Holistik, di Chiang Mai, Thailand, di bulan Maret 2017. Sekitar 30 orang dari 20 negara berpartisipasi, terutama dari dunia usaha, dan juga dari gereja, pelayanan misi dan akademisi. Sebuah Manifesto ditulis dan itu menyuarakan esensi dari pertimbangan sebelum dan sesudah Perundingan tersebut. Manifesto itu terlampir di akhir bagian ini. Namun ijinkan saya mengutip sebelas penegasannya:

 

Penciptaan kekayaan berakar pada Allah sang Pencipta, yang menciptakan sebuah dunia yang bertumbuh dengan kelimpahan dan keragaman.

Kita diciptakan dalam rupa Allah, untuk turut menciptakan bersamaNya dan bagiNya, untuk menciptakan produk dan jasa untuk kebaikan bersama.

Penciptaan kekayaan adalah sebuah panggilan yang kudus, dan karunia yang diberikan Allah, yang dipuji dalam Alkitab.

Pencipta kekayaan perlu diteguhkan oleh Gereja, dan diperlengkapi dan diutus untuk melayani di dunia kerja di tengah segala kaum dan bangsa.

Penimbunan kekayaan adalah salah, dan pembagian kekayaan perlu didorong, namun takkan ada kekayaan untuk dibagikan sampai itu diciptakan lebih dulu.

Ada suatu panggilan universal terhadap kemurahan hati, dan rasa berkecukupan adalah suatu kebajikan, namun kesederhanaan material adalah pilihan pribadi, dan kemiskinan yang tak diinginkan perlu dientaskan.

Tujuan penciptaan kekayaan melalui bisnis melampaui sekedar memberi dengan murah hati, walaupun itu hal yang terpuji; bisnis yang baik memiliki nilai intrinsik sebagai alat untuk penyediaan material dan dapat menjadi agen dari transformasi positif dalam masyarakat.

Bisnis memiliki sebuah kapasitas khusus untuk menciptakan kekayaan finansial, namun juga memiliki potensi untuk menciptakan bermacam-macam kekayaan bagi banyak pemangku kepentingan, termasuk kekayaan sosial, intelektual, jasmani dan rohani.

Penciptaan kekayaan melalui bisnis memiliki kuasa yang teruji untuk mengangkat masyarakat dan bangsa dari kemiskinan.

Penciptaan kekayaan harus selalu dikejar dengan keadilan dan kepedulian terhadap kaum miskin, dan harus peka terhadap setiap konteks budaya yang unik.

Perawatan ciptaan bukanlah pilihan. Penatalayanan atas ciptaan dan solusi bisnis terhadap tantangan lingkungan harus menjadi bagian integral dari penciptaan kekayaan melalui bisnis.

Penciptaan kekayaan dalam teori dan praktek

Keempat perundingan global ini adalah kritis dalam menajamkan pemikiran kami tentang penciptaan kekayaan, bisnis dan kaum miskin. Berikut ini adalah sebuah kekayaan intelektual untuk diambil.

Kita juga telah menyaksikan sebuah dampak positif dari bisnis bagi miliaran orang di seluruh dunia. Pertolongan terbesar dari kemiskinan, dalam sejarah manusia, telah terjadi di generasi kita. Itu bukan melalui bantuan atau pengembangan (distribusi kekayaan), namun melalui bisnis (penciptaan kekayaan). Di tahun 1990 lebih dari sepertiga manusia di planet ini adalah miskin. Kini itu kurang dari sepuluh persen, menurut Bank Dunia.

Bagaimana ini terlihat dalam prakteknya? Ijinkan saya berbagi kisah nyata dari kunjungan ke Indonesia di tahun 2012.

Itu adalah hari yang hangat dan lembab di Indonesia. Orang mungkin berkata terlalu panas bagi seorang Swedia. Tapi kisah yang terjadi benar-benar luar biasa.

Saya meluangkan satu hari dengan kepala dari sebuah desa Muslim kecil. Kami duduk di luar rumahnya, minum teh dan menikmati buah, kacang dan manisan. Ia antusias dan tenang. Sebagai seorang Muslim taat ia telah menghargai kaum pengusaha Kristen dalam suatu cara yang mengejutkan dirinya sendiri. Ada sejarah kecurigaan dan ketegangan yang panjang dan kadang penuh kekerasan antara kaum Muslim dan Kristen di Indonesia.

Si kepala desa memberitahu saya bahwa desa itu dulunya cukup miskin. Tikus memakan 40 persen panen setiap tahun, dan mahluk-mahluk ini juga menyebarkan penyakit. Kolaborasi untuk pengairan tidak ada. Tidak ada semangat wirausaha dan sepertinya tak seorangpun berpikir tentang berdoa untuk perubahan.

Namun satu hari beberapa pengusaha Kristen mengunjungi si kepala desa dan desanya. Mereka ingin membantu dan mereka ingin membangun jembatan melintasi perbedaan agama.

Awalnya si kepala desa menolak. Kenapa kaum pengusaha datang dan bukan pekerja amal atau pegawai pemerintah? Dan terlebih lagi, orang-orang ini Kristen – bukan Muslim. Namun seorang pengusaha Kristen wanita mengusulkan bahwa setidaknya mereka bisa berdoa. Ia berkata bahwa doa mendatangkan perubahan; ya, Allah dapat membuat perubahan. Hal itu disetujui. Sesuatu terjadi dan itu menjadi titik balik. Si kepala desa mengundang mereka untuk kembali dan mereka kembali.

 

Tim pengusaha Kristen ini melakukan riset dan mencari cara untuk membasmi tikus dengan cara yang ramah lingkungan. Mereka juga melakukan riset tentang bagaimana cara meningkatkan produksi agrikultural dan memulai bisnis yang menguntungkan.

Mereka menemukan sejenis burung hantu yang disebut tyto alba yang memakan tikus namun juga sangat sulit dikembangbiakkan. Beberapa orang berkata pada mereka itu mustahil. Tapi mereka berdoa, melakukan riset dan itu berhasil. Saya dapat melihat rumah burung di mana-mana di seluruh pertanian. Kerugian panen turun dari 40 menjadi 2 persen per tahun, serta sumur-sumur dan irigasi baru telah melipatgandakan hasil beras.

Saya bertanya pada si kepala desa kenapa mereka tidak menggali sumur dan mengembangkan irigasi sebelum para pengusaha datang. Ia berkata bahwa orang-orang Kristen itu mengubah cara berpikir mereka tentang bekerja dan bekerjasama, dan mereka pertama-tama dan terutama mengajarkan mereka pentingnya doa, untuk selalu mulai dengan doa.

“Kini kami terbuka untuk perubahan dan kami bertindak. Tapi kami selalu mulai dengan doa,” kata si kepala desa.

Teman-teman pengusaha Indonesia saya telah memulai kursus pelatihan bisnis di desa itu – berdasarkan prinsip-prinsip Alkitabiah. Mereka juga membantu merintis bisnis manufaktur skala kecil, meningkatkan pemasaran dan penjualan, dan menguatkan infrastruktur lokal.

Desa kecil dengan 2.320 penduduk ini telah menjadi sebuah desa percontohan di Indonesia. Televisi nasional telah menayangkannya sebagai sebuah contoh bagaimana membangun jembatan antara kaum Muslim dan Kristen, dan bagaimana mengembangkan bisnis transformasional. Desa ini sekarang menjadi pusat pembelajaran nasional tentang cara mengembangbiakkan burung hantu yang membasmi tikus.

Dalam kunjungan saya, saya juga mendengar kesaksian lain tentang bagaimana doa konkret telah membawa hasil konkret, terkait hujan, perbaikan jalan, lowongan pekerjaan, sebuah sepedan motor, dan banyak lagi.

Ketika kami meninggalkan desa itu saya dikuatkan dan merasa istimewa. Saya telah menyaksikan indikator signifikan dari transformasi ekonomi, sosial, lingkungan dan rohani. Saya bertanya pada diri saya: Apa saja faktor kunci yang berkontribusi? Doa, pengusaha Kristen dan burung hantu.

Doa dan penciptaan kekayaan

Di contoh di atas kita melihat bagaimana doa adalah bagian integral dari inisiatif BAM.

Setiap tahun di tanggal 17 Maret banyak orang di seluruh dunia merayakan Hari Santo Patrick. Ia adalah korban perdagangan manusia di abad ke-5, yang menjadi misionaris bagi bangsa dan negeri (Irlandia) di mana ia menjadi budak.

Ijinkan saya membagikan sebuah doa Santo Patrick yang terkenal, dan menyesuaikannya menjadi doa yang berhubungan dengan BAM: (versi asli dicetak tebal dan miring)

Allah peduli tentang bisnis. Melalui bisnis berbagai kekayaan dapat diciptakan, dan orang-orang dapat diangkat dari kemiskinan.

 

Biarkan doa ini membawa Anda dan bisnis Anda, serta menjadikan Kristus pusatnya!

Kristus bersamaku, sembari aku mengerjakan bisnis bagiNya dan orang-orang

Kristus di depanku, sembari aku merencanakan bisnisku

Kristus di belakangku, sembari aku mengkaji bisnisku

Kristus di dalamku; cahaya penuntunku dalam bisnis

Kristus di bawahku; Ialah pondasinya

Kristus di atasku, Ia adalah pemilik bisnisku

Kristus di kananku, Kristus di kiriku, Ialah Tuhan atas dunia kerja

Kristus ketika aku berbaring, dan beristirahat dari pekerjaanku

Kristus ketika aku duduk, di kursi kantorku

Kristus ketika aku bangun, antusias ataupun lelah

Kristus di hati setiap orang yang memikirkanku, dan bisnisku

Kristus di mulut setiap orang yang bicara tentangku, dan bisnisku

Kristus di setiap mata yang memandangku, karyawanku, pelangganku, pemasokku, dan pesaing

Kristus di setiap telinga yang mendengarku bicara tentang produk dan jasaku

Mats Tunehag

Ketua BAM Global

www.MatsTunehag.com

 

Manifesto Penciptaan Kekayaan

Latar Belakang

Kegerakan Lausanne dan BAM Global mengorganisir suatu Perundingan Global terkait Peran Penciptaan Kekayaan terhadap Transformasi Holistik, di Chiang Mai, Thailand, di bulan Maret 2017. Sekitar 30 orang dari 20 negara berpartisipasi, terutama dari dunia usaha, dan juga dari gereja, pelayanan misi dan akademisi. Temuan-temuannya akan dipublikasikan dalam beberapa naskah dan sebuah buku, juga dalam sebuah video edukasional. Manifesto ini menyuarakan esensi dari pertimbangan kami sebelum dan sesudah Perundingan tersebut.

Penegasan

Penciptaan kekayaan berakar pada Allah sang Pencipta, yang menciptakan sebuah dunia yang bertumbuh dengan kelimpahan dan keragaman.

Kita diciptakan dalam rupa Allah, untuk turut menciptakan bersamaNya dan bagiNya, untuk menciptakan produk dan jasa untuk kebaikan bersama.

Penciptaan kekayaan adalah sebuah panggilan yang kudus, dan karunia yang diberikan Allah, yang dipuji dalam Alkitab.

Pencipta kekayaan perlu diteguhkan oleh Gereja, dan diperlengkapi dan diutus untuk melayani di dunia kerja di tengah segala kaum dan bangsa.

Penimbunan kekayaan adalah salah, dan pembagian kekayaan perlu didorong, namun takkan ada kekayaan untuk dibagikan sampai itu diciptakan lebih dulu.

Ada suatu panggilan universal terhadap kemurahan hati, dan rasa berkecukupan adalah suatu kebajikan, namun kesederhanaan material adalah pilihan pribadi, dan kemiskinan yang tak diinginkan perlu dientaskan.

Tujuan penciptaan kekayaan melalui bisnis melampaui sekedar memberi dengan murah hati, walaupun itu hal yang terpuji; bisnis yang baik memiliki nilai intrinsik sebagai alat untuk penyediaan material dan dapat menjadi agen dari transformasi positif dalam masyarakat.

Bisnis memiliki sebuah kapasitas khusus untuk menciptakan kekayaan finansial, namun juga memiliki potensi untuk menciptakan bermacam-macam kekayaan bagi banyak pemangku kepentingan, termasuk kekayaan sosial, intelektual, jasmani dan rohani.

Penciptaan kekayaan melalui bisnis memiliki kuasa yang teruji untuk mengangkat masyarakat dan bangsa dari kemiskinan.

Penciptaan kekayaan harus selalu dikejar dengan keadilan dan kepedulian terhadap kaum miskin, dan harus peka terhadap setiap konteks budaya yang unik.

Perawatan ciptaan bukanlah pilihan. Penatalayanan atas ciptaan dan solusi bisnis terhadap tantangan lingkungan harus menjadi bagian integral dari penciptaan kekayaan melalui bisnis.

Seruan

Kami menyampaikan penegasan berikut kepada Gereja di seluruh dunia, dan khususnya kepada para pemimpin bisnis, gereja, pemerintah, dan akademisi.

  •        Kami memanggil gereja untuk memeluk penciptaan kekayaan sebagai pusat dari misi kita menuju transformasi holistik masyarakat dan bangsa.
  •        Kami memanggil upaya yang baru dan berkelanjutan untuk memperlengkapi dan mengutus para pencipta kekayaan demi tujuan tersebut.
  •        Kami memanggil para pencipta kekayaan untuk bertekun, dengan giat menggunakan karunia yang Allah berikan pada mereka untuk melayani Allah dan masyarakat.

Ad maiorem Dei gloriam – Untuk kemuliaan Allah yang semakin besar

 

MANIFESTO BUSINESS AS MISSION

Lausanne (LCWE1) 2004 Forum Business as Mission Issue Group bekerja selama setahun, membahas permasalahan terkait tujuan Allah bagi pekerjaan dan bisnis, peran kaum pengusaha di gereja dan pelayanan misi, kebutuhan dunia dan respon potensial dari bisnis. Group ini terdiri atas lebih dari 70 orang dari semua benua. Kebanyakan datang dari latar belakang bisnis namun ada juga pemimpin gereja dan pelayanan misi, pendidik, ahli teologi, pengacara dan peneliti. Proses kolaborasi tersebut mencakup 60 naskah, 25 studi kasus, beberapa perundingan dan diskusi via email Business as Mission di skala nasional dan regional, memuncak dalam satu minggu berisi diskusi dan pekerjaan tatap muka. Berikut adalah beberapa observasi kami.

Penegasan

Kami percaya bahwa Allah telah menciptakan semua pria & wanita dalam rupaNya dengan kemampuan untuk menjadi kreatif, menciptakan hal-hal baik bagi diri mereka dan orang lain – termasuk bisnis.

Kami percaya dalam mengikuti jejak kaki Yesus, yang terus menerus dan secara konsisten memenuhi kebutuhan orang-orang yang Ia temui, dengan demikian mendemonstrasikan kasih Allah dan kuasa kerajaanNya.

Kami percaya bahwa Roh Kudus memberdayakan semua anggota Tubuh Kristus untuk melayani, memenuhi kebutuhan rohani dan jasmani orang lain yang sesungguhnya, mendemonstrasikan kerajaan Allah. Kami percaya bahwa Allah telah memanggil dan memperlengkapi kaum pengusaha untuk membuat sebuah perbedaan Kerajaan dalam dan melalui bisnis mereka.

Kami percaya bahwa Injil memiliki kuasa untuk mentransformasi individu, komunitas dan masyarakat. Dengan demikian pengikut Kristus dalam dunia bisnis perlu menjadi bagian dari transformasi holistik ini melalui bisnis.

Kami menyadari fakta bahwa kemiskinan dan pengangguran seringkali merajalela di daerah dimana nama Yesus jarang didengar dan dipahami.

Kami menyadari baik kebutuhan serius terhadap dan pentingnya pengembangan bisnis. Namun itu lebih dari sekedar bisnis sendiri. Business as Mission adalah mengenai bisnis dengan perspektif, tujuan dan dampak Kerajaan Allah.

Kami menyadari bahwa ada kebutuhan penciptaan lapangan pekerjaan dan multiplikasi bisnis di seluruh dunia, mengarah kepada empat hal penting ini: transformasi rohani, ekonomi, sosial dan lingkungan.

Kami menyadari fakta bahwa gereja memiliki sumber daya yang besar dan kebanyakan belum tergali dalam komunitas bisnis Kristen untuk memenuhi kebutuhan dunia – dalam dan melalui bisnis – serta membawa kemuliaan bagi Allah di dunia kerja dan bidang lainnya.

Rekomendasi

Kami memanggil gereja di seluruh dunia untuk mengidentifikasi, meneguhkan, mendoakan, mengutus dan melepaskan kaum pengusaha dan wirausahawan untuk mempraktekkan karunia dan panggilan mereka sebagai kaum pengusaha di dunia – di tengah segala bangsa dan sampai ke ujung-ujung bumi.

Kami memanggil kaum pengusaha secara global untuk menerima penegasan ini dan mempertimbangkan bagaimana karunia dan pengalaman mereka dapat digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan rohani dan jasmani dunia yang paling mendesak melalui Business as Mission.

Kesimpulan

Intisari sejati dari Business as Mission adalah AMDG ad maiorem Dei gloriam – untuk kemuliaan Allah yang semakin besar

Business as Mission Issue Group

Oktober 2004

Pemimpin Rapat: Mats Tunehag                                            Wayne McGee                                              Josie Plummer

1 Lausanne Committee for World Evangelisation

0 Comments

Leave a reply

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

Log in with your credentials

Forgot your details?